Minat Baca Mahasiswa Terhadap Buku Perkuliahan
Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi memberikan
dampak negatif pada keaktifan mahasiswa di bangku perkuliahan. Mahasiswa
cenderung diam dan lebih senang “autis” dengan benda-benda canggih berupa
ponsel untuk berkomunikasi dengan teman sejawat, dari pada mendengarkan
cuap-cuap dosen di di depan kelas.
Tidak
berhenti sampai disitu, ketika akhir perkuliahan biasanya dosen selalu
memberikan pertanyaan, apakah ada yang tidak paham atau ada tanggapan terhadap
materi perkuliahan. Pada momen inilah mahasiswa biasanya menunjukkan
kepasifannya. Diam dan perlahan-lahan menundukkan kepala. Ini memberikan arti
bahwa peserta perkuliahan sudah mengerti atau tidak paham akan materi yang
sudah disampaikan. Atau memang tidak ada keinginan untuk bertanya atau
menanggapi.
Fenomena kepasifan mahasiswa di dalam kelas hampir terjadi di setiap perguruan tinggi. Hal itu disebabkan menurunnya daya kritis dalam menerima dan menganalisis materi-materi perkuliahan. Mahasiswa sebagai insan intelektual dan agent of change harus mampu memiliki pengetahuan yang luas. Pengetahuan yang luas tentu tidak di dapat hanya dengan berdiam diri. Itu semua didapatkan jika tingginya minat dan kebiasaan membaca mahasiswa. Membaca apapun itu, baik informasi di media massa, buku dan diktat perkuliahan.
Dari
polling yang di dapat dari hasil penelitian intra kampus oleh UKMF Riset yang
dilakukan terhadap mahasiswa di Universitas trunojoyo Madura tanggal 12 April
2011 dengan tema minat baca mahasiswa terhadap buku perkuliahan. Sampel yang
diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 100 Mahasiswa Universitas
trunojoyo Madura yang dipilih secara acak pada lima fakultas, setaip fakultas diambil sebanyak 20 mahasiswa,
maka didapatkan hasil penelitian dari jawaban Mahasiswa atas ungkapan membaca
adalah jendela pengetahuan 98% menjawab sejutu dengan ungkapan tersebut dan 2% tidak
setuju karena mereka beranggapan bahwa pengetahuan tidak hanya didapatkan lewat
membaca saja, mereka bisa mencari kesibukan lain supaya tidak jenuh untuk
mendapatkan ilmu.
Tempat
yang biasa di gunakan mahasiswa ketika membaca buku adalah dikosan dengan
prosentase sebanyak 56 %, membaca buku perkuliahan di perpustakaan kampus
dengan prosentase sebanyak 13 %, sedangkan 31 % membaca buku perkulihan di
kantin, Gasebo dan tempat lainnya. Mahasiswa enggan membaca buku di perpustakaan
karena dianggap kurang layak dan fasilitas yang kurang memadai dari sarana dan
prasarana, terutama lingkungan perpustakaan kampus yang kurang kondusif. Selain
faktor kondisi yang ada di perpustakaan yang fasilitasnya belum bisa maksimal,
factor lain mahasiswa enggan datang ke perpustakaan karena sifat mahasiswa yang
malas. Oleh sebab itu mahasiswa lebih banyak yang memilih kosan sebagai tempat
untuk membaca buku.
Setiap
hari mahasiswa selalu menyempatkan diri untuk membaca dengan frekuensi membaca
di setiap harinya, didapati jawaban dari mahasiswa 32% setengah jam sampai satu
jam perhari waktunya yang dipergunakan untuk membaca, 19 % mahasiswa membaca satu
jam sampai dua jam perhari dan mahasiswa yang menjawab lainnya 49 % rata – rata
mahasiswa yang jarang mebaca buku kuliah kecuali karena ada tugas, mereka lebih
seneng membaca majalah, Koran dan novel. Mahasiswa beranggapan buku kuliah
kurang menarik karena selalu menjenuhkan ketika membaca dan kurangnya hiburan
dan nuansa yang baru.
Dalam membaca buku apapun, maka diperlukan
sebuah buku untuk didapatkan sehingga bisa dibaca. Mahasiswa merupakan kalangan
akademik pada Universitas atau Perguruan Tinggi, sehingga banyak memerlukan
ilmu pengetahuan yang bisa didapatkan dimanapun, tetapi yang menjadi prioritas
di bangku perkuliyahan dalam mendapatkan ilmu didapatkan dari membaca buku
terutama buku perkuliyahan untuk menguasai materi. Dari penelitian yang
dilakukan oleh UKMF Riset FISIB, mahasiswa di Universitas Trunojoyo Madura
mendapatkan buku kuliah untuk dibaca didapatkan jawaban sebanyak 45% yang
memperoleh buku kuliah dari perpustakaan, 25% dengan cara meminjam teman serta
30% milik sendiri yang dibeli di took buku.
Dari
penelitian yang dilakukan tentang minat baca mahasiswa terhadap buku
perkuliahan, maka disitu bisa menunjukkan gambaran kehidupan mahasiswa sebagai
kaum intelektual di Universitas Trunojoyo Madura. Setelah didapati data dari
penelitian yang dilakukan, diharapkan mahasiswa mampu mengoreksi dan
memperbaiki letak kekurangan pada minat baca mahasiswa di Universitas Trunojoyo
Madura. Motivasi pendorong dalam membaca
Buku Perkuliahan
Memang,
buku pelajaran di sekolah atau perguruan tinggi itu terasa membosankan dan tidak
menarik bagi kebanyakan mahasiswa. Mereka terpaksa membaca buku itu karena
diharuskan oleh guru atau dosennya, bukan karena mereka tertarik pada atau
ingin tahu isi buku itu yang termotivasi dari dalam dirinya sendiri.
Informasi akan menjadi menarik kalau kita bisa menemukan
konsep atau sesuatu yang menarik terkait dengan informasi itu. Misalnya, kita
tidak menyukai mata kuliah sosiologi dan Anda terpaksa mempelajarinya karena
pelajaran atau mata kuliah tersebut ada di dalam kurikulum. Daripada
‘tersiksa’ seperti itu, lebih baik kita berusaha mencari konsep atau sesuatu
yang menarik dalam pelajaran atau mata kuliah atau buku sosiologi itu.
Toh, bagaimanapun juga, suka atau tidak suka, kita harus mempelajarinya juga.
Jadi, kalau
kita ingin membuat jam-jam belajar kita menyenangkan, cobalah menemukan konsep
atau sesuatu yang menarik dalam apa yang Anda pelajari itu. Artinya, Anda
berusaha mengubah motivasi ekstrinsik Anda menjadi motivasi intrinsik.
Anda mengubah posisi Anda dari terpaksa mempelajarinya menjadi mempelajarinya
karena Anda ingin tahu bagaimana sebenarnya. Jangan terima mentah-mentah
apa yang dikatakan pengarang buku, dosen, guru, teman atau yang lainnya lagi.
Ragukanlah, bertanyalah tentang kebenaran informasi itu dan carilah jawabannya,
di dalam buku itu atau di tempat buku lain, forum diskusi, bangku perkuliyahan
dan tempat yang lebih luas lagi.
Dari polling yang di dapat dari
hasil penelitian intra kampus oleh UKMF Riset FISIB yang dilakukan terhadap
mahasiswa di Universitas trunojoyo Madura tanggal 12 April 2011 dengan pokok
permasalahan Motivasi pendorong Mahasiwa dalam mebaca Buku Perkuliahan. Dari
100 responden yang dipilh secar acak di lima fakultas sebanyak 20 mahasiswa di
tiap fakultasnya tentang motivasi pendorong dalam membaca buku perkuliahan,
maka diperoleh data penelitian 69% mahasiswa menjawab motivasi membaca buku
perkuiahan karena dapat menambah wawasan, 18% mahasiswa menjawab bahwasanya
motivasi membaca buku perkuliahan adalah karena ada tugas, dan 12% mahasiswa
menjawab pendorong dari membaca buku
perkuliahan karena merupakan salah satu hobby dari mahasiswa tersebut.
Tidak
bisa dipungkiri bahwa hal yang biasa terjadi dalam tubuh manusia yang merupakan
sifat jelek yaitu sifat malas. Dalam membaca buku sifat malas sering
bermunculan, sehingga menghambat seseorang untuk menambah pengetahuan. Dari
hasil penelitian yang dilakukan oleh UKMF Riset didapatkan data tentang faktor
yang menyebabkan mahasiwa malas dalam membaca buku sebanyak 25% mahasiswa
menjawab karena factor membaca itu merupakan hal yang membosankan, 39% mahasiwa menjawab karena faktor
tidak sempat serta 35% mahasiswa menjawab karena faktor tidak adanya buku
kuliah atau buku lainnya yang dipegang atau dimiliki, sehingga tidak bisa
membacanya.
Dengan
adanya kemalasan yang kerap kali menjera seseorang untuk membaca buku baik
untuk memulai membaca buku yang sudah didera rasa malas yang tinggi, serta
ketika sudah bisa memulai membaca, tetapi rasa malas muncul di tengah-tengah
ketika membaca , maka diperlukan solusi untuk menghilangkan rasa malas yang
biasanya disebabkan karena factor membosankan, sehingga bisa bersemangat untuk
membaca lagi. Solusi untuk menghadapi agar tidak bosan dalam membaca pada
penelitian yang dilakukan adalah 56% mahasiswa menjawab membaca buku sambil
mendengarkan music supya tidak bosan, 9% membaca buku di tempat yang sejuk
tenang dan kondusif, 35% membaca buku dalam keadaan santai. Dengan solusi
tersebut, maka mahasiswa ketika bosan dalam membaca bisa bersemangat lagi dan
ilmu yang dibaca bisa diterima dengan baik oleh mahasiswa, karena mahasiswa
dalam membaca diperlukan konsentrasi supaya bisa difahami dengan jelas.
Semua
kegiatan apapun yang dilakukan pasti ada hikmah yang bisa diperoleh didalamnya
baik hikmah yang positif ataupun negatif, demikian juga dalam hal membaca buku.
Dengan membaca buku hikmah yang didapatkan dalam penelitian yang dilakukan
didapatkan data dari jawaban responden bahwa 27% mahasiswa menjawab membaca
buku dapat menghilangkan kejenuhan yang diakibatkan stress, 7% menjawab membaca
buku tidak dapat menghilangkan stress, 66% menjawab membaca buku tergantung
persepsi dari masing-masing individu dalam menerimanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar